Rabu, 23 Maret 2016

melibatkan (si)apa



hidup adalah serangkaian pilihan. yang pada 
dasarnya mengikatmu pada rabbmu 
dalam doadoa agar segala pilihan yang sudah, sedang dan kelak 
akan kau ambil itu adalah yang terbaik bagi hidupmu.



jika saja bisa memilih untuk memutar balik waktu, sesiapa kemungkinan besar mau melakukannya. memperbaiki ini itu, mengambil peluang ini itu, melakukan ini itu dan segala lain hal yang dilakukan untuk tidak dilakukan, pun sebaliknya.

aku
aku kadang terlalu congkak untuk menyesal. memilih hidup untuk saat ini. tidak terlalu mempedulikan masa depan. memilih berada di area abu-abu, sementara hitam putih jelas di hadapan. memilih untuk tidak memilih termasuk pilihan, kan.

dia
begitu khawatir akan masa depan. larut dalam fikir akan jadi apa, mau bagaimana, hendak melakukan apa, akan seperti apa. sama berada di area abu-abu, namun lebih terang. sesekali menyesal dengan menoleh ke belakang.

kami
entah disibukkan oleh apa. memutar roda yang sama. menggenggam kemudi yang sama. saling mempercayakan navigasi, namun menuding satu sama lain ketika badai. aku mendahului.

kami
berusaha percaya. berusaha mempercayakan. meyakinkan.
berusaha memikirkan seserius mungkin namun terlalu ragu untuk memutuskan.

kami
meski saling mempercayai, terkadang hidup memberi pilihan-pilihan di luar yang pernah dan selalu kami pikirkan.




secerah apapun pagi menawarkan hari, simpan payungmu baik-baik dan 
pastikan dia tidak rusak, payungmu. 
sebab kamu tak pernah tau, 
hujan bisa jadi menunggumu, dibilangan jam kesekian.


23062016

Jumat, 13 Juni 2014

(...)


kamu bahagia?

    menurut penglihatanmu?

hmm... dengan orang yang begitu asing?

    sekarang tidak lagi :)

apakah kamu pernah berfikir sebaliknya?

    tentu saja 

berarti kamu menyesal, kan :)

    tidak, buatku.

?

    bukan menunjukkan penyesalan ketika aku berfikir, 
    jika aku tidak bertemu dengan nya dan memilih untuk 
    hidup bersamanya, apa kehidupan akan sama baiknya? :)

bagaimana jika yang terjadi sebaliknya?
bagaimana jika segala hal menjadi lebih baik, lebih menyenangkan?

    aku tidak pernah memikirkan hal itu :)

(...)


kamu tahu, aku pernah begitu menyayangimu. 
kita tidak perlu mengulang dan mengingat hal yang telah berlalu.
itu melelahkan.




-dyas

Senin, 18 Februari 2013

dari daun kepada pohon


angin sedang sering bertiup kencang. semua yang ada di bumi seolah ingin dibuat terbang, dibumbungkan hingga menyejajari awan-awan, yang tetiba bergerak cepat, berarak, beriring-iringan.

pun daun, yang berpegang erat pada pohon lewat seranting rapuh.
pun pohon, yang mencengkeram bumi lewat akar agar tak roboh.

daun berbisik... lemah
pohon berucap... lelah.
lalu rinai hujan turut bertingkah.
lalu gelegar guruh yang seolah marah.

lalu daun basah
lalu pohon basah
lalu akar basah
lalu air terserap tanah


bukan angin, bukan hujan. pohon sudah tak ingin, daun lelah bertahan sendirian.



angin tenang, hujan mereda. daun makin basah, mengangkasa. titik-titik air dari daun bermula. pohon bergeming, entah apa difikirnya.

-dyas

Kamis, 07 Februari 2013

halo, februari


pagi,
aku menyapamu dengan senyum bahagia. lega. dan semalam aku mencuri setoples gula milik nenek dari lemari dapurnya untuk kugunakan pagi ini. mempermanis senyum ku yang akhir-akhir ini jarang kusemat di wajahku.



tiba-tiba aku ingin berfilosofi soal kenikmatan.
'thing tastes best when it's gonna last'

kamu pasti tahu nasib stoples berisi kue-kue jenis apapun. kebanyak dari mereka teronggok di atas meja atau sudut buffet dan tidak berpindah ketika isinya hanya yang tertinggal di dasar.
kamu juga pasti tahu nasib lauk yang sudah seharian di meja makan. apalagi jika bilangan waktu sudah tersebut malam. tak ada yang menyentuh sebab perut sudah kenyang. tak ada juga yang berniat menghangatkan, sebab terlalu tanggung dalam hal ukuran.
kamu pun pasti tahu bagaimana nasib makanan di atas meja makan restoran. ketika memesan makanan terlalu banyak. orang-orang sudah duduk terlalu lama dan sedang tertawa-tawa bertukar cerita. mereka, makanan-makanan itu tersisa beberapa. sedikit-sedikit.

buatku, mereka adalah surga kecil di dunia.
terkadang buat kakak dan adik ku juga. sampai-sampai ibu harus melerai kami yang berebut kue, atau potongan ayam. lalu ketika ibu kembali memenuhi toples-toples itu dengan kue yang sama dengan yang kami perebutkan, atau memenuhi meja makan dengan potongan ayam yang membuat kami bertengkar, kami sama sekali acuh, tidak ingin.


yah, aku selalu menikmati bagian akhir. buatku, rasa nya berkali-kali lipat lebih enak.
mungkin faktor save the best for the last ku turut berperan di sini. ya, aku selalu menyisakan yang terbaik untuk kuhabiskan belakangan. minimal dia memberiku semangat untuk menyelesaikan bagian-bagian yang kurang enak sebelum-sebelumnya. bagian yang terbaik itu.

dan Februari,
kamu bulan terakhirku bekerja di kantor sekarang.
kamu bulan terakhirku tinggal di Jakarta tanpa suami
kamu bulan yang menjadi akhir penantian jarak yang nyatanya sudah terlalu angkuh untuk ditentang.

dear Februari,
bantu aku untuk menikmati setiap hari-harimu, yaa. semoga aku bisa menyelesaikan segala amanah dan janji dengan baik :)

oh ya, aku pertama kali bertemu dia, seseorang yang pelukkannya adalah rumah buatku, pada salah satu bilangan hari mu juga, loh.



-dyas

Kamis, 31 Januari 2013

sajak buat abah ibu



ibu:
hatimu serupa bulir hujan yang mendekap kala senja hendak 
menyatu langit. meluruh lembut, namun mampu memadamkan 
kaldron dalam jumlah jutaan. campin, namun elok. tegas dan keras, 
namun didaktis. seperti seorang ahli yang mampu melihat setitik retak pada cencawan.

abah: 
hatimu seumpama hangat mentari sore yang memeluk usai detik 
yang bergulir seharian. memberi visiun yang terjangkau logika semua angka usia. 
selalu mongkok pada capaian terkecil yang bahkan tak tertangkap
mata awam selama berasal darah daging sendiri. 



hati bulir hujan dan hangat mentari sore berbuai 
dalam pilin do’a yang tiada kan hilang hingga jiwa melayang, dramatis. 
mengelon, agar hatiku menjadi selengkung keluwung yang berukir, 
indah di langit.

-dyas
#repost

Rabu, 30 Januari 2013

sebanyak apa rindu mu

sebanyak apa rindumu padaku?

pertanyaan mu pagi ini. masih sama seperti kemarin. kemarinnya lagi. dan kemarinnya lagi.

di rinai hujan, adakah rindumu?
di hembus angin, adakah rindumu?
di titik embun, adakah rindumu?

apa rindumu sebanyak kedipan mataku?
apa rindumu sebanyak oksigen yang ku hirup seharian ini?
apa rindumu sebanyak kata yang terucap mulutku?
apa rindumu sebanyak gerak otot di tubuhku ini?



ah, tidak... aku tidak sehebat itu mengantar rindu.
rinduku sesederhana do'a yang selalu terselip namamu.


-dyas

Rabu, 23 Januari 2013

yang tak lelah berjalan ke arah ku




kamu tahu, semesta itu ahlinya soal pertemuan indah. jadi 
jangan bosan mencari jalan ke arah ku berdiri 
--- menunggumu, disini


berapa lama kamu berjalan ke arahku? musim apa yang saja yang kamu lewati? seberapa jauh sudah kamu berjalan hingga menemukanku terduduk menggigiti kuku-kukuku?

aku tahu, tidak sulit menemukanku. semua tergantung niatnya.
kamu, dengan niatmu berjalan ke arahku, berhasil mencapai tempatku menunggumu.
aku, yang sudah melatih senyum termanisku. melatih ucapan 'halo' agar terdengar merdu. melatih berbagai pertanyaan agar tak terlalu basa-basi yang mungkin bisa membuatmu, yang baru saja melakukan perjalanan panjang, bosan.


kamu yang tak lelah berjalan ke arahku,
bekal apa yang kamu siapkan dulu? yang kamu tunjukkan pada abah dan ibu. yang membuat mereka meng-iya-kan permintaanmu.

kamu yang tak lelah berjalan ke arah ku,
perjalanan sejatinya dilakukan oleh semua manusia, hingga semua kembali padaNya. pun perjalanan kita. pun perjalanan tiap akhir pekan yang selalu kamu usahakan untuk mengantarkan sebuah pelukan yang kusebut rumah.


hei, kamu yang nyatanya masih harus berjalan ke arah ku.
aku selalu senang mendengarkan cerita perjalananmu ke arahku. menyenderkan kepala di dadamu. sambil memainkan jemarimu. tergelak di beberapa ceritamu. tersenyum hingga larut menyadarkanmu. mengecup keningku dan menyuruhku tidur.



dan besok pagi, semburat diwajahku mungkin akan mengalahkan torehan jingga di timur sana. dan senyumku tak kalah bahagia dibanding cicit burung-burung yang bertukar sapa.


-dyas